Pernah ngerasa minder mau daftar beasiswa luar negeri? IPK pas-pasan, pernah gagal, atau ngerasa "ah, itu cuma buat orang-orang pintar". Kalau iya, kamu wajib kenalan sama Reza Saputra, alumni Biologi UI angkatan 2012 yang sekarang kuliah S2 di Australia lewat beasiswa Australia Awards. Spoiler: jalannya nggak mulus, dan justru di situ serunya.

Anak Jakarta yang jatuh cinta sama Papua

Kak Reza asli Jakarta, lahir dan besar di ibu kota. Tahun 2012 dia masuk Biologi UI dan mulai tertarik dengan konservasi tumbuhan. Tapi titik baliknya terjadi tahun 2016, waktu dia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) sekaligus penelitian tugas akhir (skripsi) di Fakfak, Papua Barat.

Di sanalah dia jatuh cinta sama tanah Papua. Masyarakatnya baik, alamnya indah banget, dan yang paling bikin terkesima: keanekaragaman anggreknya! Wajar sih, Pulau Nugini (New Guinea) memang salah satu surga anggrek dunia. Saking cintanya, sejak 2018 Kak Reza memutuskan pindah ke Sorong, di kawasan Kepala Burung di ujung barat laut Pulau Papua.

Fun fact yang mungkin bikin kamu lega: Kak Reza lulus dengan IPK 3,35. Bukan cumlaude, bukan juga angka yang bikin orang langsung terpukau. Tapi selama kuliah, dia rajin turun ke lapangan, termasuk riset anggrek dan etnobotani di Papua untuk skripsinya. Pengalaman lapangan inilah yang belakangan jadi "senjata" utamanya.

Di Sorong, Kak Reza bekerja sebagai Ranger atau Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di BBKSDA Papua Barat Daya, di bawah Kementerian Kehutanan. Kerjaannya? Masuk hutan, mencari anggrek, mengidentifikasi, mendokumentasikan, lalu memastikan mereka tetap lestari. Sejak 2016, dia sudah ikut lebih dari 28 ekspedisi lapangan ke daerah-daerah terpencil di Papua. Kebayang nggak tuh capeknya?

Kena "Orchid Fever"

Ada istilah sendiri buat kecintaan pada anggrek yaitu "Orchid Fever". Dan demamnya beralasan. Kepala Burung sering disebut sebagai “Dark Spot" keanekaragaman tumbuhan, yaitu wilayah yang isinya kaya banget tapi masih minim penelitian. Artinya, masih banyak anggrek yang belum pernah dideskripsikan ilmuwan.

Masalahnya, riset terbaru menunjukkan tiga dari empat spesies tumbuhan yang belum dideskripsikan ternyata sudah terancam punah, gara-gara hilangnya habitat dan perdagangan ilegal. Jadi kerjaan Kak Reza literally balapan sama kepunahan.

Kenapa harus anggrek? Selain bunganya cantik, anggrek itu "harta karun" riset. Anggrek bisa jadi bioindikator kesehatan hutan, ada yang dipakai sebagai obat, dan punya nilai budaya. Contohnya noken, tas tradisional Papua dari serat kayu, yang nilainya bisa naik sampai sepuluh kali lipat kalau dihias dengan umbi semu (pseudobulb) anggrek.

Salah satu momen paling berkesan buat Kak Reza adalah ikut menemukan dan menamai spesies baru, Bulbophyllum abuniorum. Nama ini dia ambil dari suku Abun, masyarakat yang menjaga Cagar Alam Pegunungan Tambrauw Utara. Menurutnya, ini cara sederhana untuk menghargai orang-orang yang sudah menjaga hutan jauh sebelum ilmuwan datang.

“Mengakui peran masyarakat lokal bikin mereka bangga sama kekayaan alam di tanahnya sendiri. Dari rasa bangga itu, generasi berikutnya jadi tertarik ikut menjaga.” (Reza Saputra)

Kerja kerasnya juga pelan-pelan diapresiasi. Kak Reza menerima Tony Whitten Conservation Award 2021 dari Cambridge Conservation Initiative (UK), Elodie Sandford Explorer Award 2023 dari Scientific Exploration Society, dan Penghargaan Konservasi Alam 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dia juga anggota IUCN SSC Orchid Specialist Group, dan sekarang dipercaya jadi Co-Chair Asia Subgroup untuk periode 2026-2029.

Kak Reza dalam ekspedisi lapangan bersama Scientific Exploration Society
Kak Reza dalam ekspedisi lapangan bersama Scientific Exploration Society

Plot twist: pernah ditolak

Perjalanan Kak Reza dengan Australia Awards dimulai tahun 2021, waktu dia terpilih ikut program ELTA (English Language Training Assistance) yang didanai Australia Awards. Tiga bulan training bahasa Inggris intensif: academic writing, speaking, sampai strategi tes. Ini jadi fondasi penting banget buatnya.

Lalu dia daftar beasiswanya... dan ditolak. Total sudah 5x ditolak beragam beasiswa. Sedih? Pasti. Tapi Kak Reza justru menganggap kegagalan itu sebagai salah satu pelajaran paling berharga dalam hidupnya, salah satu growth mindset. Seperti pupuk, yang membuat tumbuhan subur.

Setelah ditolak, dia melakukan evaluasi diri yang dalam. Ternyata masalahnya bukan di pengalaman, karena pengalaman lapangannya sudah kuat. Masalahnya, dia belum bisa menjelaskan dengan jelas bagaimana kerjanya terhubung dengan prioritas pembangunan yang lebih besar, dan bagaimana kuliah di Australia bakal melipatgandakan dampaknya.

Di percobaan ke sekian, ini yang dia ubah:

  • CV dirapikan supaya pencapaian terlihat sebagai dampak, bukan sekadar daftar kegiatan.
  • Esai dibuat lebih nyambung dari awal sampai akhir: dulu, sekarang, dan nanti.
  • Tujuannya diselaraskan dengan prioritas pembangunan Indonesia dan Australia.
  • Minta feedback dari mentor dan alumni, ikut webinar, dan mempelajari aplikasi yang pernah lolos.

Hasilnya? Tahun 2024 dia masuk shortlist wawancara, dan Australia Awards membiayai tes IELTS-nya. Skornya 7.0 dengan tidak ada band di bawah 6.0. Modal persiapannya: materi ELTA, sumber gratis dari website dan channel Youtube seperti IELTS Liz dan IELTS Advantage, plus latihan writing dan speaking bareng teman.

Dan akhirnya: lolos Australia Awards Scholarship! Bonus plot twist, di tahun yang sama Kak Reza juga ditawari beasiswa Manaaki New Zealand. Dua-duanya sama-sama keren, tapi dia memilih Australia Awards karena paling pas dengan tujuan akademik dan kariernya.

“Rejection is not the end, it’s part of the process. When it’s your time, it’s your time.” (Reza Saputra)

Kenapa James Cook University?

Kak Reza nggak asal pilih kampus. Berbulan-bulan dia kepoin profil dosen, pusat riset, dan calon supervisor, bahkan menghubungi beberapa akademisi langsung. Hasilnya, JCU dengan program MSc(Prof) in Tropical Biology and Conservation selalu muncul paling atas karena tiga alasan:

  • Kuat banget di bidang ekologi tropis dan konservasi.
  • Cairns di Far North Queensland punya ekoregion dan keanekaragaman hayati yang mirip dengan Pulau Nugini (New Guinea).
  • Dekat dengan koleksi anggrek di Australian Tropical Herbarium, yang nyambung banget sama kerjaannya.

Oh iya, Australia Awards itu fully funded ya: biaya kuliah, biaya hidup, asuransi kesehatan, tiket pesawat, sampai dukungan akademik ditanggung semua.

Kehidupan kuliah di Cairns

Salah satu hal yang bikin Kak Reza kagum di awal kuliah adalah sistem lecture yang direkam. Bagian yang susah bisa diputar ulang sampai paham. Efisien buat mahasiswa, efisien juga buat dosennya.

Kak Reza Saputra, alumni Biologi UI angkatan 2012
Kak Reza Saputra, alumni Biologi UI angkatan 2012

Selain kuliah, dia menulis beberapa paper bersama profesor dan kolega di Australia, total sudah 12 jurnal ilmiah dia tulis. Dia juga beberapa kali jadi relawan di proyek penilaian status konservasi tumbuhan asli Australia. Mimpinya: membangun jaringan riset kolaboratif antara Indonesia dan Australia untuk konservasi anggrek di Papua.

Kenapa penting? Menurut Kak Reza, kalau taksonomi di Indonesia kuat, kita bisa menentukan spesies mana yang harus diprioritaskan untuk dilindungi. Apalagi anggrek termasuk tumbuhan paling rentan punah, salah satunya karena permintaan pasar gelap.

Tips dari Kak Reza buat kamu yang mau kuliah di Australia

  • Temukan "why" kamu. Kenapa kamu mau kuliah lagi? Jawaban ini jadi pondasi semua esai kamu.
  • Bangun cerita yang utuh. Hubungkan latar belakang, kerjaan sekarang, dan tujuan masa depan jadi satu narasi. Harus ada benang merah yang kuat.
  • Kaitkan dengan isu nyata. Tunjukkan masalah pembangunan apa di Indonesia yang mau kamu bantu selesaikan.
  • Show, don’t just tell. Jangan cuma daftar prestasi. Tunjukkan dampak, pertumbuhan, dan tujuanmu.
  • Manfaatin semua resource. Webinar, mentor, alumni, dan panduan resmi itu gratis.
  • Minta review berkali-kali. Terbuka sama kritik. Esai yang bagus biasanya lahir dari banyak revisi.
  • Latihan wawancara. Komunikasi yang jelas itu penting banget, jangan diremehkan.
  • Jujur dan autentik. Panel seleksi bisa merasakan mana yang tulus dan mana yang dibuat-buat.
  • Jangan nyerah. Kalau gagal di percobaan sebelumnya, percobaan selanjutnya harus diperbaiki, perkuat ceritamu, lalu daftar lagi.

Jadi, kapan giliran kamu?

Dari anak ibu kota yang jatuh cinta sama Papua, keluar-masuk hutan Tanah Papua, pernah ditolak beasiswa, sampai akhirnya belajar di Australia. Cerita Kak Reza membuktikan bahwa IPK bukan segalanya, dan gagal sekali bukan akhir dari segalanya.

“You only fail when you stop trying.” (Reza Saputra)

Jadi, buat adik-adik Biologi UI yang lagi mimpi kuliah di Australia: mulai siapkan dari sekarang, kenali "why" kamu, dan jangan takut gagal. Siapa tahu, cerita berikutnya yang dimuat di sini adalah cerita kamu. See you di Australia!