Kunci Lulus Cepat dengan Langkah yang Tepat

Tepat pada hari Rabu, 19 April 2023, penulis berkesempatan untuk berbincang dengan salah satu alumni Biologi FMIPA UI, yaitu Kak Ni Made Desi Swastiki selaku lulusan termuda Biologi angkatan 2019.  Status yang dimiliki Kak Desi nyatanya tidak membuat dirinya langsung berpuas diri. Semangat belajar yang ia miliki membuatnya tetap ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Saat ini, Kak Desi berusaha mendaftarkan dirinya untuk mengikuti Program Magister (S2) Biologi sambil menunggu panggilan kerja dari beberapa perusahaan yang ia lamar. Penulis kagum dengan komitmen Kak Desi yang memutuskan untuk berkuliah sambil bekerja.

Kak Desi bercerita bahwa dahulu sejak awal ia telah memilih biologi dan menaruh minat pada bidang forensik. Namun seiring berjalannya waktu, ketertarikan dan penelitiannya tertuju pada mikroorganisme. Hal ini menjadi landasan Kak Desi untuk bergabung dalam BSO yang berfokus pada pembelajaran mengenai mikroorganisme, yaitu KSM Proteus. Tidak hanya itu, Kak Desi juga bergabung dengan Sigma-B dan KSHL Comata Biologi UI. Kak Desi berpendapat bahwa kehidupan kuliah dapat diimbangi dengan menambah pengalaman dalam berorganisasi. Selain bergabung dengan 3 BSO, Kak Desi juga aktif dalam organisasi, seperti HMD dan KMHD (Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma) UI. Tidak hanya itu, Kak Desi juga terlibat dalam serangkaian kegiatan acara, seperti menjadi Ketua Koordinator Operasional OIM MIPA 2020,  Deputi Internal Olimpiade UI BIOFEST, dan menjadi Tickteting staff di acara TOSSAKA UI 16TH.

Awal mula Kak Desi bisa mendapatkan status sebagai lulusan termuda bermula ketika ia mengikuti kelas akselerasi saat masih duduk di bangku SMA. Kak Desi menyelesaikan SMA hanya dalam kurung waktu 2 tahun dan menjadi sosok termuda di angkatan 2019. Kak Desi mengaku bahwa ia merasa biasa-biasa saja terlepas dari statusnya sebagai lulusan termuda. Ia menganggapnya wajar mengingat dirinya yang hanya bersekolah di SMA 2 tahun dan lulus kuliah dalam waktu 3,5 tahun. Lucunya, teman-temannya juga tidak ada yang menyangka terkait umurnya yang jauh lebih muda, mengingat Kak Desi adalah kelahiran Desember 2002.

Menurut Kak Desi, wajar apabila saat masuk kuliah seorang mahasiswa baru ingin lulus dengan predikat cumlaude dan lulus cepat, yaitu sekitar 3,5 tahun. Apabila tidak bisa sekaligus keduanya, mengejar salah satu pun tidak apa-apa. Keinginannya ini mulai terwujud saat ada seorang dosen yang menawarkannya untuk melakukan KP (Kerja Praktek) di semester 5. Padahal KP biasanya dilakukan mahasiswa saat menginjak semester 6. Hal ini membuat Kak Desi dapat memulai KP lebih awal dibandingkan teman-teman seangkatannya. Oleh karena itu, ia juga bisa menerima seminar proposal dan melakukan pengambil data pada semester 6 dan semester 7. Pengambilan data yang dilakukan Kak Desi selama kurang lebih 4 bulan nantinya akan digunakan sebagai bahan pembuatan skripsi miliknya.

Penulis juga sempat bertanya mengenai target Kak Desi saat masih menjadi mahasiswa, yang kemudian membuatnya berhasil menjadi lulusan termuda. Kak Desi berkata bahwa ia tidak memiliki perencanaan khusus. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi cepat atau lambatnya kelulusan. Pertama, penelitian akhir yang dapat menghabiskan waktu beragam tergantung topik yang diangkat. Kedua, keberuntungan dalam menemukan dosen yang memiliki visi dan misi sesuai sehingga dapat membuatnya lulus lebih cepat. Namun, semua itu tidak menghentikan Kak Desi untuk memiliki target yang jelas. Kak Desi membagikan tips bagi para mahasiswa yang tertarik untuk lulus dalam waktu 3,5 tahun.

Saat semester 1 dan semester 2, mahasiswa Biologi memang tidak bisa memilih jumlah mata kuliah yang diinginkan karena sudah dipaketkan oleh pihak kampus. Kuncinya adalah fokus dalam menyelesaikan kedua semester dengan nilai yang baik. Kemudian, saat semester 3 dan semester 4, Kak Desi menyarankan untuk mengambil lebih dari  21 SKS apabila berhasil mendapatkan IPK yang tinggi pada semester sebelumnya. Targetnya adalah untuk mempertahankan sebaik mungkin IPK agar bisa mengambil banyak mata kuliah. Kak Desi bercerita bahwa ia memberanikan diri mengambil 24 SKS saat semester 7 agar bisa lulus dengan cepat. Faktor yang mendasari keputusan Kak Desi adalah dirinya yang baru menyelesaikan 120 SKS pada masa itu. Namun, ia berpendapat bahwa ini harus dilakukan dengan pertimbangan yang sangat hati-hati sesuai dengan kapasitas masing-masing. Kak Desi juga menyarankan agar para mahasiswa tidak mengambil sebanyak 24 SKS di semester akhir.

Penulis sempat bertanya mengenai penyaluran hobi Kak Desi yang menggemari dunia forensik. Kak Desi rupanya menjadi sukarelawan sebagai Project Mastermind di Behind The Kill. Platform sosial ini menjadi tempat bagi para mahasiswa dan pelajar untuk membahas kasus dan fenomena kriminal yang terjadi pada manusia dan alam dari sudut pandang ilmiah dan psikologis. Kak Desi berkata, bahwa tugasnya sebagai Project Mastermind termasuk berkontribusi dalam pengembangan ide kreatif dalam manajemen kasus dan aktivitas publikasi konten lainnya

Saat membahas perihal dunia kerja, Kak Desi beranggapan bahwa ada beberapa skill yang dibutuhkan untuk membuat seseorang bertahan. Contohnya Time management, yang sangat diperlukan untuk mengatur jadwal kegiatan agar tidak saling mengganggu satu sama lain. Kemampuan beradaptasi dengan cepat akibat perubahan zaman juga harus diperhitungkan. Oleh karena itu, soft skill dalam menguasai aplikasi seperti Canva dan PowerPoint juga layak untuk dikembangkan karena bisa menjadi bentuk meningkatkan kualitas diri. Pada topik ini, Kak Desi tidak lupa menekankan betapa pentingnya kemampuan dalam bekerja di bawah tekanan yang ada sesuai dengan lapangan kerja yang ditekuni.

Berbicara tentang prospek dunia kerja, Kak Desi percaya lapangan pekerjaan terbuka luas untuk mahasiswa Biologi. Namun, semuanya bisa berawal dari riset apa yang masing-masing mahasiswa jalani, Ada pilihan tak terbatas yang bisa mahasiswa ambil sesuai minat dan bakat mereka, seperti mikroorganisme, botani, hewan, dan lain-lain. Kak Desi memberikan contoh bahwa ada banyak anak Biologi UI yang menekuni mikroorganisme kemudian memutuskan magang di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Ada juga lulusan Biologi UI yang melakukan kerja sama di rumah sakit atau perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan seperti Biofarma. Kak Desi berpesan pada mahasiswa Biologi untuk mempersiapkan diri dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan senantiasa bersemangat dalam menjalani kuliah mereka di Universitas Indonesia.

 

Ditulis oleh Staf UKEL 2023