Pritya Pravina : Menggabungkan Finance & Social Responsibility di Hong Kong

Kita tak tahu ke mana hidup akan membawa kita, hal yang dapat kita lakukan hanyalah menjalankan tugas sebaik-baiknya. Kami mewawancarai Pritya Pravina, alumni Biologi UI angkatan 2001, melalui Google Meets pada Sabtu malam yang lalu. Bagi Pritya Pravina, biologi merupakan mata pelajaran favorit sejak SMA. Dengan berbekal cita-cita menjadi ilmuwan, ia mendaftar menjadi mahasiswa di Jurusan Biologi FMIPA UI. Biologi molekuler, genetika, dan biologi evolusi merupakan mata kuliah favoritnya selama menduduki bangku kuliah. Ketiga mata kuliah tersebut dirasanya mengajarkan berbagai konsep dasar biologi yang sungguh menggugah rasa ingin tahu lebih mendalam mengenai kehidupan. Sebelum lulus, Pritya berkesempatan mengerjakan proyek skripsinya di US Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2), suatu lembaga penelitian kelas dunia yang disponsori Angkatan Laut Amerika Serikat, di bawah bimbingan Dr. Noviar Andayani dan Drh. Susanna Widjaja. Pengalaman itu semakin menguatkan keinginannya untuk berkarya sebagai peneliti.

Setelah menempuh pendidikan S1, Pritya memasuki dunia kerja dengan pekerjaan pertama sebagai research associate di sebuah perusahaan farmasi Indonesia terkemuka. Walau pekerjaan yang dilakukan pada saat itu memberikan kebebasan bagi Pritya untuk merancang dan menjalankan penelitiannya sendiri, ternyata dunia kerja tidak seperti yang semula dibayangkan. Berkeinginan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dan memperluas jaringan, Pritya mendaftarkan diri dalam program Magister Manajemen di Prasetiya Mulya Business School. Bagi Pritya, ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah bisnis seperti Akuntansi, keuangan, pemasaran dan strategi bisnis merupakan hal berbeda yang dapat membuka pandangan terhadap dunia baru. Di akhir masa studinya, Pritya berkesempatan mewakili Prasetiya Mulya dalam dua kompetisi rencana bisnis tingkat dunia: Novartis BioCamp Challenge di Tokyo dan Global Social Venture Competition di Bangkok, Hyderabad, dan Berkeley. Melalui lomba yang diikuti, ia menyadari bahwa bisnis harus dapat menyelesaikan berbagai masalah sosial dan lingkungan untuk dapat memberi nilai tambah dan berkelanjutan. Lembaga keuangan dapat menjadi bagian penting dalam penyaluran modal pada kegiatan usaha yang berkelanjutan.

Dengan idealisme itu, Pritya mengambil tawaran bekerja di sebuah bank internasional di Jakarta. Sebagai Relationship Manager di Corporate Banking Division, Pritya bertanggungjawab melayani kebutuhan perbankan nasabah perusahaan dari berbagai industri. Sejak tahun 2013, Pritya mendapat kesempatan bekerja di kantor regional di Hong Kong. Tugas yang dilakukan adalah menganalisis proposal kredit skala besar dari berbagai negara di Asia Pasifik untuk memastikan tingkat pengembalian yang dibutuhkan dapat tercapai. Setelah  empat tahun di posisi tersebut, Pritya mendapat kesempatan baru di bidang commercial real estate (CRE) atau pembiayaan properti hingga sekarang. Pekerjaan di bidang pembiayaan properti mengharuskan Pritya mempelajari seluk beluk sektor properti, kondisi pasar di berbagai negara, struktur pembiayaan, dan juga membangun jaringan baru dan memberikan berbagai pelatihan yang dibutuhkan tim CRE di berbagai negara.

Sejak beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan multinasional dan investor peduli dengan isu perubahan iklim. Mereka memahami bahwa pemanasan global berisiko mempengaruhi kelangsungan bisnis. Corporate Social Responsibility (CSR) saja tidak cukup, tetapi aspek sosial dan lingkungan harus diintegrasikan ke dalam model bisnis perusahaan. Pelatihan biologi memudahkan Pritya menangkap konsep-konsep ilmiah sehingga ia dapat menjelaskan dan memberikan ide pada perusahaan terkait perubahan iklim.

Bekerja di bawah grup perbankan terbesar di dunia memperlihatkan berbagai kebudayaan, baik dari sisi klien maupun rekan kerja. Kompleksitas untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara dari latar belakang budaya yang berbeda merupakan tantangan utama yang harus diatasi agar komunikasi dapat terjalin dengan efektif dan rasa saling percaya dapat terbangun. Perbedaan budaya membuat lebih banyak ketidakpastian mengenai panduan norma sosial dan tingkah laku. Di mata warga negara asing, Indonesia belum dipahami dengan baik sehingga kesalahpahaman tentang kebudayaan, ideologi negara dan demografi Indonesia sering terjadi.

Selain kebudayaan yang beragam, Pritya juga harus bersaing dengan berbagai lulusan universitas ternama dunia. Tak dapat dipungkiri bahwa kualitas universitas adalah salah satu faktor yang berpengaruh bagi lulusannya. Mereka yang berasal dari universitas besar dunia lebih percaya diri dan mempunyai jaringan relasi yang baik. Namun, Pritya tidak berkecil hati karena tidak banyak lulusan Indonesia dapat berkarir di luar negeri. Ditanya mengenai perubahan jalur keilmuan, Pritya percaya bahwa pendidikan S1 penting untuk membentuk pola pikir, daya analisis, pemikiran kritis, dan logika. Selain itu, kunci keberhasilan yang dipercayai oleh Pritya adalah kemampuan menggabungkan ilmu-ilmu yang dimiliki, selalu ingin tahu, dan tak segan bertanya serta belajar hal baru.

Selain menggeluti bidang keuangan, Pritya juga terjun membantu Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Jumlah PMI di Hong Kong mencapai 150.000 orang dan rata-rata bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji 7-8 juta Rupiah. Walau demikian, masih banyak PMI tidak dapat mengumpulkan cukup uang untuk kembali ke tanah air. Masalah komunitas PMI cukup kompleks karena jumlahnya makin bertambah yang diakibatkan pendidikan yang rendah dan tidak adanya  pemahaman mengenai pengaturan keuangan sehingga hal tersebut menimbulkan banyak PMI jatuh ke dalam jeratan hutang dan berbagai masalah sosial lain. Kasus-kasus tersebut mengetuk hati Pritya untuk membantu memberdayakan PMI di Hong Kong melalui pendidikan keuangan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Enrich HK (https://enrichhk.org/id), menjadi sarana Pritya menyalurkan hasrat mengajar dan panggilan untuk memberdayakan PMI melalui pendidikan keuangan. Enrich bertujuan memberdayakan pekerja migran di Hong Kong untuk mengatasi masalah keuangan dan meraih impian. Melalui Enrich, Pritya berharap permasalahan PMI di Hong Kong terkait keuangan dapat diangkat dan menggugah pembuat kebijakan untuk berpihak kepada PMI. Sebagai sukarelawan pengajar di Enrich, hampir setiap hari Minggu Pritya memfasilitasi kelas yang dihadiri para PMI di hari libur mereka.

Menurut Pritya, kemampuan adaptif, rasa ingin tahu, kemampuan memecahkan masalah, dan berpikir kritis adalah sangat penting dalam menghadapi tantangan hidup dan memajukan karir,. Perkembangan zaman yang sangat cepat membuat kita harus terus menantang diri menjadi lebih baik. Bidang sustainability atau keberlanjutan menjadi area penting yang harus diperhatikan, namun masih banyak pihak yang belum paham dengan kompleksitasnya. Pemikiran konvensional menilai keberhasilan usaha dari pertumbuhan aset dan keuntungan, di mana pengembalian atas investasi dinilai semata-mata dari keuntungan moneter. Aspek lingkungan alam dan dampak sosial pada masyarakat dahulu dianggap sebagai eksternalitas yang tidak dihitung oleh perusahaan. Pemikiran ekonomi berkelanjutan juga masih dilihat sebagai kemewahan yang hanya dapat dilakukan oleh negara-negara maju. Pandemi Covid-19 yang dilalui saat ini menyadarkan bahwa kita semua tinggal di planet yang sama dan kerusakan alam menimbulkan bencana yang akan berdampak pada semua negara.

Bagi para mahasiswa Biologi UI, Pritya berpesan untuk menghargai kesempatan kuliah yang berharga. Belajar yang serius dan mengikuti organisasi untuk mengembangkan kepemimpinan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan waktu kuliah dengan baik. Biologi adalah ilmu kehidupan yang mengajarkan banyak hal mendasar untuk karya apa pun yang hendak dilakukan di masa depan. Ketika mempelajari sesuatu, alangkah baiknya kita benar-benar serap ilmu sebanyak-banyaknya, membuka pikiran, berpikir kritis, dan tidak ragu untuk berdebat. Jangan membatasi belajar hanya di kelas, namun juga terapkan pada kehidupan sehari-hari. Kita juga harus keluar dari zona nyaman untuk terus mencari pengalaman baru, mencoba terobosan-terobosan baru, bekerja sama dengan organisasi lain, dan kritis melihat kebutuhan atau masalah sosial lingkungan di sekeliling kita.